Perkembangan bisnis retail, siapa yang punya ?

26 Maret 2010

Ketika perjalanan pagi berangkat kerja ada yang lain di sepanjang Jalan Magelang sampai Jalan Bantul. Setahun belakangan ini di sepanjang jalan itu tumbuh subur supermaket tidak kurang dari 20 buah. Namun setelah aku perhatikan ternyata hanya 4 nama yang mendominasi. Yah ….nama-nama yang sudah tidak asing di telingaku, karena setiap kali ada iklan sebuah produk di tivi, selalu disertai tulisan produk ini dapat diperoleh di ……,  …….,   dan……

Jadi jelas pemilik supermarket itu adalah korporasi retail nasional, bukan Kang Amin , bukan Yu Beruk. Mereka berdua cukup berkutat di pasar tradisional. Ya tentu saja alasan klise, nggak cukup modal…..

Padahal sebelumnya di kanan kiri supermarket itu sudah ada warung kelontong kecil-kecil milik warga sekitar yang tentu saja bukan merupakan kerja sampingan, tetapi merupakan usaha pokok untuk menghidupi keluarga. Namun, dengan adanya supermarket itu pendapatan mereka merosot drastis, bahkan ada yang langsung tutup dan warungnya sudah berganti menjadi warung bakso dan mie ayam. Ini sih masih mending ganti usaha, sedangkan yang lain mulai kembang kempis bertahan dengan kondisi terhimpit tersebut.

Kalau pemerintah daerah (kabupaten/kota) membiarkan keadaan ini berlangsung terus, lalu mau dikemanakan usaha-usaha supermikro itu? Bukankah selama ini mereka sudah seperti penganguran terselubung? Dengan adanya kapitalis nasional yang masuk ke daerah semakin mempersempit ruang gerak mereka. Ada baiknya kita simak kebijakan Pemerintah Kabupaten Bantul. Di Kabupaten ini, pengusaha retail lokal difasilitasi untuk berkembang dengan dihidupkannya pasar-pasar tradisional. Ada larangan bagi kapitalis nasional, apalagi internasional untuk membuka cabang/outlet di daerah  ini. Barangkali untuk sementara ini pengusaha retail lokal masih bisa menghirup udara dengan bebas. Namun, nasib akan berubah jika kelak kepala daerah yang baru mempunyai kebijakan lain. Bola-bali nasibe wong cilik…………

2 pemikiran pada “Perkembangan bisnis retail, siapa yang punya ?

  1. Mungkin tidak akan seperti ini jika kita membangun ekonomi yang berpihak pada rakyat.
    Terima kasih sudah mampir di tempat saya
    Salam dan sukses untuk Anda

  2. Setuju Pak. Selama ini pembangunan ekonomi tidak berpijak pada tata nilai budaya bangsa. Padahal kalau kita cermati, ternyata banyak potensi pengembangan ekonomi yang berakar dari ekonomi kerakyatan. Sebagai contoh sistem “maro”(bagi hasil secara fifty-fifty) dalam bercocok tanam atau “nggadhuh” (piara ternak). Ini suatu tatanan ekonomi yang sangat relevan dengan jaman sekarang yang cenderung pada ekonomi syariah. Terima kasih atas komentarnya. Salam dan sukses kembali untu Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s