PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Menurut Suryanto (2002: 20 – 21) pembelajaran kontekstual adalah:

Pembelajaran yang menggunakan bermacam-macam masalah kontektual sebagai titik awal, sedemikian sehingga siswa belajar dengan menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memecahkan berbagai masalah, baik masalah nyata maupun masalah simulasi, baik masalah yang berkaitan dengan pelajaran lain di sekolah, situasi sekolah, maupun masalah di luar sekolah, termasuk masalah-masalah di tempat-tempat kerja yang relevan.

Johnson (2002: 25) mendefinisikan pendekatan CTL sebagai berikut:

the CTL system is an educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subjects with the context of their daily lives, that is, with the context of their personal social, and cultural circumstances.

Sedangkan menurut Nurhadi (2002: 1) pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning(CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan  antara materi pelajaran dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang mereka miliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka, sebagai anggota keluarga, masyarakat.

Kemudian dijelaskan pula dalam Teachnet (2007: 1)  sebagai berikut:

contextual teaching and learning (CTL) helps us relate subject matter content to real world situations and motivate students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workers and engage in the hard work that learning requires.

Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik suatu pengertian bahwa dalam pembelajaran Fisika yang kontekstual, proses pengembangan konsep-konsep dan gagasan-gagasan Fisika bermula dari dunia nyata. Dunia nyata tidak hanya berarti konkret secara fisik atau kasat mata namun juga termasuk hal-hal yang dapat dibayangkan oleh alam pikiran siswa yang sesuai dengan pengalamannya. Masalah-masalah yang aktual dan familier dengan siswa digunakan sebagai titik awal pembelajaran Fisika.

Menurut Crawford (2001: 3) komponen-komponen dalam pendekatan pembelajaran kontekstual terdapat lima komponen yaitu relating, experiencing, applying, cooperating dan transferring.

Menurut Johnson (2002: 24):

the CTL system encompasses the following eight components: 1) making meaningful connections, 2) doing significant work, 3) self-regulated learning, 4) collaborating, 5) critical and creative thinking, 6) nurturing the individual, 7) reaching high students, 8) using authentic assessment.

Sedangkan menurut Nurhadi (2002: 10) pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama yakni: konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry),  bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).

Dari ketiga pendapat tersebut dapat disarikan adanya 10 komponen pendekatan pembelajaran kontekstual sebagai berikut.

1. Relating (keterkaitan, relevansi)

Menurut Masnur Muslich (2007: 41) relating adalah bentuk belajar dalam kehidupan nyata atau pengalaman nyata. Pembelajaran harus digunakan untuk menghubungkan situasi sehari-hari dengan informasi baru untuk dipahami atau dengan problema untuk dipecahkan.

2. Experiencing (pengalaman langsung)

Dengan pengalaman, mereka tumbuh dalam kemampuan mereka untuk memahami konsep abstrak, memanipulasi simbol, beralasan logis, dan menggeneralisasi (Crowford, 2001: 5-6)

3. Applying (penerapan)

Crowford (2001: 8) memberikan batasan tentang applying sebagai berikut:

We define the applying strategy as learning by putting the concepts to use. Obviously, students apply concepts when they are engaged in hands-on problem-solving activities and projects like those described above. Teachers also can motivate a need for understanding the concepts by assigning realistic and relevant exercises.

Dari penjelasan di atas dapat diambil pengertian bahwa strategi applying merupakan strategi  belajar dengan cara menerapkan konsep untuk digunakan dalam kegiatan pemecahan masalah yang sedang dihadapi.

4. Cooperating (bekerjasama)

Menurut Slavin (1995: 2) pembelajaran kooperatif menunjuk pada berbagai metode pembelajaran di mana siswa bekerja dalam kelompok atau grup kecil untuk membantu satu sama lain mempelajari materi pembelajaran.

5. Transferring

Transfering adalah strategi pembelajaran yang didefinisikan sebagai penggunaan pengetahuan dalam konteks yang baru atau situasi baru yang tidak ditemukan di kelas (Crowford, 2001: 13-14).

6. Inquiry (Menemukan)

Menurut Nurhadi (2002: 12) pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

Langkah-langkah kegiatan inquiry adalah: (a) merumuskan masalah, (b) mengamati atau melakukan observasi, (c) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lain, (d) mengomunikasikan atau menyajikan hasilnya pada pihak lain (pembaca, teman sekelas, guru, audiens yang lain) (Masnur Muslich, 2007: 45).

7. Questioning (Bertanya)

Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting  dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui (Nurhadi, 2002: 14).

8. Modelling (Pemodelan)

Menurut Masnur Muslich (2007: 46) prinsip-prinsip modelling yang bisa diperhatikan guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah sebagai berikut:

a.   Pengetahuan  dan  keterampilan  diperoleh  dengan  mantap  apabila ada model atau  contoh yang bisa ditiru.

b.    Model atau contoh bisa diperoleh langsung  dari yang berkompeten atau dari ahlinya.

c.   Model atau  contoh bisa  berupa  cara mengoperasikan  sesuatu, contoh hasil karya, atau model penampilan.

9. Reflection (Refleksi)

Menurut Nurhadi (2002: 18) refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan  apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Guru dapat melakukan refleksi untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang baru dipelajari dengan mengajukan pertanyaan di akhir pelajaran.

10. Authentic Assesment (Penilaian yang Sebenarnya)

Schell (2001: 16) memberikan penjelasan sebagai berikut:

contextual teaching employees assessment which is derived from multiple sources and is on-going and blended with instruction. The multiple sources of evidence of learning are collected over time and in multiple contexts and provide students with opportunities for practice and feedback.

Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. Gambaran perkembangan pengalaman siswa ini perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa. Dengan demikian, penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung, bukan semata-mata pada hasil pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Johnson, E.B. (2002). Contextual teaching and learning. California: Corwin Press Inc.

Kemmis, S. & Targgart,R.M. (1992). The action research planner. Geelong: Deakin University.

Masnur Muslich. (2007). KTSP pembelajaran berbasis kompetensi dan komtekstual panduan bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

Nurhadi. (2002). Pendekatan kontekstual. Jakarta: Depdiknas.

Schell, J.W. (2001). An Emerging Framework for Contextual Teaching and Learning in Preservice Teacher Education. Diambil dari pada tanggal  3 Januari 2008 dari http://www.coe.uga.edu/ctl/theory/framework.pdf.

Slavin. (1995). Cooperative learning. Tokyo: Allyn and Bacon.

Suryanto. (2002). Penggunaan masalah kontekstual dalam pembelajaran Fisika. Makalah disajikan pada pidato pengukuhan guru besar Universitas Negeri Yogyakarta.

Teachnet. (2007). What is contextual teaching and learning?. Diambil pada tanggal 6 Januari 2007, dari http://www.cew.wiscos.edu/teachnet/ctl/

2 pemikiran pada “PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

  1. Artikelnya menarik, tapi akan lebih bagus dan dapat dilaksanakan oleh pembaca khususnya Guru Fisika atau diadopsi Guru Mapel lain kalo konkrit dalam kelas, dan kontekstual benar, saya tunggu tulisan berikutnya, tq

  2. Terima kasih atas kunjungannya. Ya maunya seperti itu, tapi kenyataan di lapangan sulit, karena kita sudah terjebak dengan aturan-aturan dan sistem yg justru membelenggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s