PENGELOLAAN GURU

Pengertian Pengelolaan

Dalam bahasa Inggris pengelolaan biasa disamakan dengan management yang berarti pula pengaturan atau pengurusan (Suharsimi Arikunto, 1988: 30). Menurut Griffin (1984: 6), pengertian management adalah sebagai berikut.

Management is a set of activities, including planning and decision making, organizing, leading and controlling, directed at an organization’s human, financial, physical and information resources with the aim of achieving organizational goals in an efficient and effective manner.

Terry (1977: 4) menyebutkan, “ management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources”. Menurut Rue dan Byars (2000: 14-15) fungsi-fungsi manajemen meliputi hal-hal berikut.

  • Planning: deciding what objectives to pursue during a future period and what to do to achieve those objectives.
  • Organizing: grouping activities, assigning activities, and providing the authority necessary to carry out the activities.
  • Staffing: determining human resource needs and recruiting, selecting, training, and developing human resources.
  • Leading: directing and channeling human behavior toward the accomplishment of objectives.
  • Controlling: measuring performance against objectives, determining causes of deviations, and taking corrective action where necessary.

Aswarni Sudjud (1987: 56) mengatakan paling tidak ada tiga kegiatan atau fungsi dalam manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan. Perencanaan merupakan kegiatan menentukan apa yang akan dicapai, diadakan, dan dikerjakan. Pengorganisasian merupakan kegiatan mengatur pelaksanaan apa-apa yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Pengawasan merupakan kegiatan mengecek, mengukur, menilai sekaligus menyempurnakan apa yang telah dilaksanakan tadi. Burhanudin (1994: 10) mengartikan manajemen sebagai kegiatan menggerakkan sekelompok orang dan menggerakkan segala fasilitas untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan organisasi pendidikan maka manajemen yang meliputi proses perencanaan, pengorganisasisan, kepemimpinan, dan pengawasan itu difokuskan pada penanganan sumber daya pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Dari berbagai pengertian manajemen diatas, secara umum fungsi-fungsi manajemen meliputi: 1) perencanaan (planning), 2) pengorganisasian (organizing), 3) kepemimpinan (leading), 4) pelaksanaan (actuating), 5) pengendalian (controlling), dan 6) penilaian (evaluating). Fungsi-fungsi manajemen yang dapat diterapkan dalam pengelolaan laboratorium antara lain: 1) perencanaan, 2) pengorganisasian, 3) pelaksanaan, dan 4) penilaian. Fungsi-fungsi ini harus dilaksanakan secara berurutan, supaya proses manajemen dapat diterapkan secara baik sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pengelolaan Guru

Ada beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan pengelolaan guru, yang antara lain sebagai berikut.

  1. Proses penempatan guru yang tidak terarah, tidak adil dan tidak proporsional. Kenyataan yang dihadapi banyak guru yang berada di daerah terpencil tidak memiliki masa depan, baik bagi pengembangan karirnya maupun kesehatan rohani dan jasmaninya. Dihapuskannya program rotasi semakin menjadikan ciut semangat guru untuk meningkatkan profesionalismenya, karena dalam benaknya sudah merasa bahwa sampai pensiun dia tetap berada di sekolah tersebut.
  2. Rasio jumlah guru terhadap jumlah peserta didik semakin tidak seimbang. Adanya sekolah yang kelebihan guru, namun di sisi lain masih banyak sekolah-sekolah yang kekurangan guru. Sekolah yang kelebihan guru timbul ’rebutan’ jam mengajar untuk mencapai ketentuan minimal memperoleh tunjangan profesi. Bahkan ada yang menerapkan team teaching. Sedangkan sekolah yang kekurangan guru terpaksa mengangkat guru honorer/guru tidak tetap (GTT) yang gajinya jauh di bawah upah minimum.
  3. Masih ada guru yang memiliki job di sektor lain. Seringkali diketahui kelas dalam keadaan tanpa guru, karena guru hanya meninggalkan tugas dan melaksanakan tugas di sektor lain. Hal ini masih terjadi karena tidak ada waskat (pengawasan melekat) dari kepala sekolah.
  4. Menumpuknya guru pada pangkat IV/a. Kebanyakan kenaikan pangkat guru akan berhenti alias ’mentok’, karena tidak menghasilkan karya ilmiah ’secuilpun’. Yang mengejutkan, di sejumlah daerah ada beberapa guru yang berhasil mencapai pangkat IV/b, akan tetapi proses pancapaiannya ’tidak halal’, karena menggunakan PAK (penetapan angka kredit) palsu.

Solusi

Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah:

  1. Pemangku kepentingan (pemerintah pusat dan daerah) mengkaji ulang kebutuhan riil guru di lapangan. Jangan memaksakan membuka lowongan guru jika memang tidak diperlukan (zero growth). Baik pengangkatan reguler (pendaftaran baru) maupun penegerian dari guru honorer. Dihidupkannya kembali sistem rotasi guru untuk memberikan kesempatan bagi guru yang berprestasi dan memberikan hukuman bagi yang melakukan pelanggaran untuk efek jera.
  2. Pemangku kepentingan melakukan evaluasi akhir tahun ajaran untuk mengetahui rasio jumlah guru terhadap jumlah peserta didik pada setiap satuan pendidikan. Jika memang ada kelebihan guru di suatu sekolah segera lakukan mutasi ke sekolah lain yang kekurangan. Jika terpaksa tidak ada mutasi maka sekolah yang kelebihan guru dapat menerapkan team teaching dengan bentuk kolaborasi berupa lesson study ataupun class action research (penelitian tindakan kelas). Jadi bukan ’kucing-kucingan’ seperti yang selama ini terjadi.
  3. Pemangku kepentingan melakukan kajian yang mendalam dalam pengangkatan jabatan kepala sekolah. Sehingga yang terpilih menjadi kepala sekolah adalah benar-benar dari guru profesional yang berkualitas, bukan karena nepotisme atau sekedar memperpanjang usia pensiun dari jabatan struktural. Dengan harapan ketika bertugas selalu mengutamakan tugas pokok dan fungsinya.
  4. Dengan melakukan langkah nomor 2., maka permasalahan no 4. akan teratasi, karena hasil lesson study ataupun class action research dapat dituangkan sebagai karya tulis berbentuk laporan penelitian.

Solusi yang penulis sampaikan bukanlah yang terbaik. Akan tetapi paling tidak dapat memberikan pencerahan pada kita dalam mengawal keberhasilan pendidikan di negeri ini. Apalagi dengan dilaksanakan sertifikasi guru dalam jabatan, diharapkan profesionalisme guru semakin meningkat dan kualitas pendidikan kita semakin berjaya. Semoga!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s