Tumben hari itu hp-ku berdering lagi. Sudah empat kali dalam sehari hp-ku berdering terus. Tapi setiap kali mau kuangkat langsung putus, karena biasanya memang kuletakkan di wadah kecil pada ikat pinggangku yang kubeli seharga duapuluh ribu dua tahun lalu.
Ketika aku sedang membuka e-mailku di lab komputer, tiba-tiba hp-ku berdering lagi. Untung kuletakkan di meja komputer sehingga dengan cekatan aku mampu menggapainya. Segera kuucapkan salam layaknya seorang ustadz kawakan,”Assalamu’alaikum!” Dari sana terdengar jawaban,”Wa alaikum salam!” Suara seorang perempuan. Tapi kedengarannya bukan salah satu dari teman guru atau karyawan sekolah. “Pak Dar ya? Anu pak saya sudah menunggu Bapak di ruang TU!” sambungnya. “Oh … ya saya segera ke situ, Bu!” jawabku sambil masih berpikir keras menduga siapa perempuan ini. Tak berapa lama aku sudah sampai di ruang TU.
Ternyata di ruang TU sudah menunggu dua perempuan. Yang satu masih muda dan cantik. Sedangkan yang satunya sudah separo baya dan wajahnya sudah mulai keriput. Belum sempat aku duduk, langsung saja perempuan yang tua sudah nerocos berbicara, “Begini pak, saya sudah berulangkali ke sekolah ini dan dipingpong terus”. Wah apa pula ini? “Kedatangan saya kemari mau minta surat seperti ini, yang Bapak keluarkan!” Dia menunjukkan surat keterangan yang dikeluarkan sekolah ini atas nama siswa laki-laki. “Sebentar Bu! Ibu ini siapa dan Mbak ini siapa?” kataku dengan sabar (disabar-sabarkan). “Saya Sri, Pak! Dan ini ibu. Saya siswa sekolah ini tahun lalu,” kata perempuan yang muda. “ O…o.. Sri yang tahun lalu tidak lulus?” kataku penuh selidik, karena Sri sudah berubah menjadi sedemikian dewasa dan cantik pula, walaupun belum ada setahun meninggalkan sekolah ini.”Iya Pak,” jawabnya manja.
Kemudian Ibu Sri pun bercerita panjang lebar yang akhirnya, “Kalau saya tidak mengirimkan surat pengaduan kepada Pak Bupati belum tentu ijasah ini keluar. Kemarin itu, Sri mendaftar di sebuah perusahaan nasional, ijasah persamaannya diakui, tapi surat-surat yang lain juga ditanyakan, sehingga saya minta Bapak membuatkan surat seperti ini, biar adil! Toh Sri sudah mengikuti ujian semua mata pelajaran yang ada disini. Hanya gara-gara nilai Bahasa Inggrisnya kurang nol koma jadi tidak lulus. Saya harus ngurus sendiri ke sana-sini.” Setelah agak mereda aku pun memberi penjelasan dengan penuh penekanan, “Maaf ya Bu, semua keinginan Ibu saya penuhi, namun perlu diketahui bahwa prosedurnya memang begitu. Bahwa anak yang tidak lulus mempunyai dua pilihan. Pertama mengulang kembali di kelas XII sekolah ini atau ikut ujian persamaan. Nah, ternyata Sri memilih ikut ujian persamaan,” Mendengar penjelasanku, ibu dan anak itu hanya terdiam.” Nah, sekarang Ibu tunggu dulu, saya buatkan suratnya.” Aku pun meninggalkan dua perempuan itu.
Tidak sampai setengah jam surat keterangan sudah selesai kubuat. Segera kuberikan kepada Sri dan ibunya. “Ini Bu! Suratnya sudah jadi,” kataku.”Maaf ya Bu! Lain kali kalau punya anak yang mau ujian, disuruh giat belajar, supaya lulus. Tidak seperti ini, karena sebenarnya surat keterangan ini merupakan pelengkap sertifikat kelulusan. Jadi yang tidak lulus tidak memperolehnya,” tambahku. Secepat kilat ibu Sri itu menjawab,”Wah karena di sini guru-gurunya tidak ikut bermain sih!” Aku jadi bingung,”Bermain apa Bu?””Begini Pak! Di sekolah lain, pada saat siswa-siswanya ujian, guru mata pelajaran yang diujikan ikut mengerjakan di ruang lain. Lah nanti jawabannya diberikan kepada siswa di kamar mandi dengan kode yang telah disepakati bersama.” Wow! Ini to maksudnya! Aku pura-pura heran,”Sekolah mana saja itu, Bu?” Ibu Sri pun dengan fasih menyebutkan satu persatu sekolah-sekolah tersebut. Bahkan ada juga sekolah yang tergolong favorit. “Habis guru disini takut dosa sih!” katanya dengan tanpa perasaan bersalah. “Ssst! Di sini kepala sekolahnya baru, jadi belum tahu!” kataku untuk menutup pembicaraan. Sri dan ibunya pun perpamitan dengan perasaan puas karena memperoleh surat keterangan yang diinginkannya. Aku pun mengantar dua perempuan itu sampai di pintu keluar. Kemudian aku kembali ke lab komputer sambil tersenyum kecut.