Artikel

24 November 2009

TANGGAPAN PRESIDEN SBY ATAS REKOMENDASI TIM 8

24 November 2009

Tadi malam merupakan acara puncak yang dinanti-nanti oleh para pemburu berita, penikmat berita, pelaku demo, aparat hukum (bukan penegak hukum), termasuk saya sebagai………….

TIDAK LULUS UJIAN NASIONAL

18 November 2009
Tumben hari itu hp-ku berdering lagi. Sudah empat kali dalam sehari hp-ku berdering terus. Tapi setiap kali mau kuangkat langsung putus, karena ………….

KOMODITAS POLITIK

28 Oktober 2009
Sejak dicanangkannya otonomi daerah, maka terjadi perubahan atmosfer demokrasi yang signifikan. Kepala daerah (gubernur, bupati atau walikota) tidak lagi dipilih dan diusulkan oleh DPRD. Namun dipilih langsung oleh ………….

PENDIDIKAN PROFESI GURU

21 Oktober 2009

Ada perubahan penetapan sertifikasi guru dari penilaian portofolio menjadi pendidikan profesi. Namun apakah hal itu akan memberikan sumbangan yang signifikan terhadap kinerja guru? Aku ………….

APAKAH BANGSA MALAYSIA BERBUDAYA, MAJU, DAN CERDIK PANDAI ?

Jumat, 04 September 2009

Tak hendak beta bersilat lidah, hanya sebatas sampaikan kisah. Pada abad 15, Parameswara seorang bangsawan dari Majapahit hijrah ke Malaka karena Kerajaan Majapahit jatuh akibat ……………


TANGGAPAN PRESIDEN SBY ATAS REKOMENDASI TIM 8

24 November 2009

Tadi malam merupakan acara puncak yang dinanti-nanti oleh para pemburu berita, penikmat berita, pelaku demo, aparat hukum (bukan penegak hukum), termasuk saya sebagai orang awam yang mencintai negeri ini, yaitu pidato Presiden SBY terhadap rekomendasi Tim 8 bentukannya sendiri.
Setelah dua pekan bekerja Tim 8 berhasil merumuskan beberapa hal penting yang disampaikan kepada Presiden. Ternyata masyarakat pun tidak bisa langsung menerima hasil yang diharapkan, karena masih harus menunggu sepekan lagi untuk mendengarkan tanggapan Presiden. Jadi sepertinya diencret-encret (ditunda-tunda) semacam menjadi entertainment yang membuat penasaran para audience
Nah baru tadi malam melalui saluran TVOne sekitar jam 20.00 saya berhasil menikmati entertainment yang sangat dinanti oleh jutaan rakyat Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Kapolri dan Jaksa Agung tak membawa kasus dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto ke pengadilan. “Saya kira ini lebih banyak manfaatnya ketimbang mudoratnya,” kata Presiden dalam jumpa pers di Istana Negara, Senin (23/11).


TIDAK LULUS UJIAN NASIONAL

18 November 2009

Tumben hari itu hp-ku berdering lagi. Sudah empat kali dalam sehari hp-ku berdering terus. Tapi setiap kali mau kuangkat langsung putus, karena biasanya memang kuletakkan di wadah kecil pada ikat pinggangku yang kubeli seharga duapuluh ribu dua tahun lalu.

Ketika aku sedang membuka e-mailku di lab komputer, tiba-tiba hp-ku berdering lagi. Untung kuletakkan di meja komputer sehingga dengan cekatan aku mampu menggapainya. Segera kuucapkan salam layaknya seorang ustadz kawakan,”Assalamu’alaikum!” Dari sana terdengar jawaban,”Wa alaikum salam!” Suara seorang perempuan. Tapi kedengarannya bukan salah satu dari teman guru atau karyawan sekolah. “Pak Dar ya? Anu pak saya sudah menunggu Bapak di ruang TU!” sambungnya. “Oh … ya saya segera ke situ, Bu!” jawabku sambil masih berpikir keras menduga siapa perempuan ini. Tak berapa lama aku sudah sampai di ruang TU.

Ternyata di ruang TU sudah menunggu dua perempuan. Yang satu masih muda dan cantik. Sedangkan yang satunya sudah separo baya dan wajahnya sudah mulai keriput. Belum sempat aku duduk, langsung saja perempuan yang tua sudah nerocos berbicara, “Begini pak, saya sudah berulangkali ke sekolah ini dan dipingpong terus”. Wah apa pula ini? “Kedatangan saya kemari mau minta surat seperti ini, yang Bapak keluarkan!” Dia menunjukkan surat keterangan yang dikeluarkan sekolah ini atas nama siswa laki-laki. “Sebentar Bu! Ibu ini siapa dan Mbak ini siapa?” kataku dengan sabar (disabar-sabarkan). “Saya Sri, Pak! Dan ini ibu. Saya siswa sekolah ini tahun lalu,” kata perempuan yang muda. “ O…o.. Sri yang tahun lalu tidak lulus?” kataku penuh selidik, karena Sri sudah berubah menjadi sedemikian dewasa dan cantik pula, walaupun belum ada setahun meninggalkan sekolah ini.”Iya Pak,” jawabnya manja.

Kemudian Ibu Sri pun bercerita panjang lebar yang akhirnya, “Kalau saya tidak mengirimkan surat pengaduan kepada Pak Bupati belum tentu ijasah ini keluar. Kemarin itu, Sri mendaftar di sebuah perusahaan nasional, ijasah persamaannya diakui, tapi surat-surat yang lain juga ditanyakan, sehingga saya minta Bapak membuatkan surat seperti ini, biar adil! Toh Sri sudah mengikuti ujian semua mata pelajaran yang ada disini. Hanya gara-gara nilai Bahasa Inggrisnya kurang nol koma jadi tidak lulus. Saya harus ngurus sendiri ke sana-sini.” Setelah agak mereda aku pun memberi penjelasan dengan penuh penekanan, “Maaf ya Bu, semua keinginan Ibu saya penuhi, namun perlu diketahui bahwa prosedurnya memang begitu. Bahwa anak yang tidak lulus mempunyai dua pilihan. Pertama mengulang kembali di kelas XII sekolah ini atau ikut ujian persamaan. Nah, ternyata Sri memilih ikut ujian persamaan,” Mendengar penjelasanku, ibu dan anak itu hanya terdiam.” Nah, sekarang Ibu tunggu dulu,  saya buatkan suratnya.” Aku pun meninggalkan dua perempuan itu.

Tidak sampai setengah jam surat keterangan sudah selesai kubuat. Segera kuberikan kepada Sri dan ibunya. “Ini Bu! Suratnya sudah jadi,” kataku.”Maaf ya Bu! Lain kali kalau punya anak yang mau ujian, disuruh giat belajar, supaya lulus. Tidak seperti ini, karena sebenarnya surat keterangan ini merupakan pelengkap sertifikat kelulusan. Jadi yang tidak lulus tidak memperolehnya,” tambahku. Secepat kilat ibu Sri itu menjawab,”Wah karena di sini guru-gurunya tidak ikut bermain sih!” Aku jadi bingung,”Bermain apa Bu?””Begini Pak! Di sekolah lain, pada saat siswa-siswanya ujian, guru mata pelajaran yang diujikan ikut mengerjakan di ruang lain. Lah nanti jawabannya diberikan kepada siswa di kamar mandi dengan kode yang telah disepakati bersama.” Wow! Ini to maksudnya! Aku pura-pura heran,”Sekolah mana saja itu, Bu?” Ibu Sri pun dengan fasih menyebutkan satu persatu sekolah-sekolah tersebut. Bahkan ada juga sekolah yang tergolong favorit. “Habis guru disini takut dosa sih!” katanya dengan tanpa perasaan bersalah. “Ssst! Di sini kepala sekolahnya baru, jadi belum tahu!” kataku untuk menutup pembicaraan. Sri dan ibunya pun perpamitan dengan perasaan puas karena memperoleh surat keterangan yang diinginkannya. Aku pun mengantar dua perempuan itu sampai di pintu keluar. Kemudian aku kembali ke lab komputer sambil tersenyum kecut.


KOMODITAS POLITIK

28 Oktober 2009

Sejak dicanangkannya otonomi daerah, maka terjadi perubahan atmosfer demokrasi yang signifikan. Kepala daerah (gubernur, bupati atau walikota) tidak lagi dipilih dan diusulkan oleh DPRD. Namun dipilih langsung oleh rakyat di daerahnya. Jauh-jauh hari setelah lolos seleksi bakal calon, para calon kepala daerah ini melakukan kampanye besar-besaran. Bahkan calon gubernur di sebuah povinsi di Indonesia menghabiskan dana yang sangat besar. Lebih besar daripada biaya kampanye Presiden Obama waktu mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat. Berdasarkan hitungan kasar, si kepala daerah tersebut akan merugi jika hanya satu periode menjabat. Bisa ditebak, pada periode berikutnya dia akan mencalonkan lagi….. dan lagi andaikan tidak dibatasi 2 periode jabatan.

Sektor pendidikan merupakan sektor yang paling strategis untuk menarik simpati pemilih, terutama pendidikan formal berupa sekolah. Oleh karena itu sektor ini sangat mendapat perhatian dari para calon kepala daerah, termasuk yang incumbent. Sekolah dibina sedemikian rupa sehingga para siswa dapat lulus ujian nasional. Karena sementara ini indikator keberhasilan pemerintah daerah dalam bidang pendidikan adalah seberapa besar persentase kelulusan anak usia sekolah dalam menempuh ujian nasional.

Untuk mencapai keberhasilan tersebut, kepala daerah incumbent menekan kepala dinas pendidikan supaya peserta ujian nasional di daerah itu bisa lulus semua. Demikan pula kepala dinas pendidikan menekan kepala sekolah supaya peserta ujian nasional di sekolahnya bisa lulus semua. Hal itu kadang diartikan boleh menggunakan cara-cara yang tidak fair untuk meraih keinginan itu. Alhasil bisa di tebak, suatu daerah yang tergolong miskin fasilitas dan akses pendidikannya bisa menghantarkan anak usia sekolah lulus ujian nasional 100%. Kemana pemantau independen? Ah itu bisa diatur. Ujian nasional pun bisa menjadi komoditas politik yang cukup menjanjikan bagi kepala daerah yang ingin terpilih lagi. Kalau hanya berakhir seperti ini, apakah artinya ujian nasional?


PENDIDIKAN PROFESI GURU

21 Oktober 2009

Ada perubahan penetapan sertifikasi guru dari penilaian portofolio menjadi pendidikan profesi. Namun apakah hal itu akan memberikan sumbangan yang signifikan terhadap kinerja guru? Aku belum tahu, karena semuanya masih meraba-raba. Apalagi jika pola pengembangan profesionalisme guru berpijak pada pendidikan barat. Padahal karakter bangsa ini sangat berbeda dengan bangsa negeri seberang. Bangsa ini kalau bekerja masih perlu diawasi. Tanpa pengawasan bisa berabe! Fakta berbicara, sudah diawasi, ya masih korup.

Sosok guru yang mampu mengemban tugas yang profesional sebenarnya sudah diberikan moto oleh Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Untuk dapat melaksanakan fungsi pertama, berarti guru haruslah berkepribadian yang utuh dengan kemampuan akademik dan profesional yang andal. Untuk dapat melaksanakan fungsi kedua dibutuhkan guru yang memahami dan menyayangi peserta didik. Sedangkan untuk dapat melaksanakan fungsi yang ketiga, guru harus terus menerus memantau proses belajar peserta didik dan mendorong semangat belajar peserta didiknya. Akan tetapi sejauh ini moto tersebut seakan tidak bermakna karena tidak adanya pelaksanaan di lapangan.

Dulu ada anggapan bahwa guru yang berkualitas adalah yang menempuh pendidikan Akta IV. Namun setelah diuji sekian puluh tahun, apa hasilnya? Menurutku salah satu penyebabnya adalah mewabahnya pendidikan Akta IV. Akan tetapi aspek kendali mutu (quality controll), tidak dilakukan dengan baik. Lalu bagaimana dengan pendidikan profesi? Apakah tidak setali tiga uang dengan pendidikan Akta IV? Ah, kita tunggu sajalah!