PATUNG BUDHA
Temanku, Upin adalah seorang pemandu wisata. Suatu hari ia mengantarkan wisatawan Jepang ke Candi Borobudur. Salah satu wisatawan itu bernama Tomoyoshi Mitsumoto. Upin menceritakan sejarah dan asal-muasal Candi Borobudur. Tapi kelihatannya Mitsumoto belum puas. Lalu Upin mencari akal untuk memuaskan tamunya. Ia menambahkan tentang keajaiban Patung Budha di Candi Borobudur. Begini ceritanya…………….
HUMOR : PEMANDU WISATA
Posted: 22 Januari 2012 in CERITA, GUIDE, HUMOR, PEMANDU WISATA, WISATATag:cerita, guide, humor, pemandu wisata, wisata
Desentralisasi Pendidikan
Posted: 4 September 2011 in DESENTRALISASI PENDIDIKAN, GURU, MANAJEMEN, PEMERINTAH DAERAH, PENDIDIKANBuku berjudul Decentralization of Education, Legal Issues, tulisan Ketleen Florestal dan Robb Cooper, Penerbit Worldbank, tahun 1997 merupakan salah satu dari rangkaian tulisan bertema Decentralization of Education yang berisi tentang pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah yang diatur dalam undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain yang mengikat. Keberhasilan dalam pembagian kewenangan dan pelaksanaannya sangat tergantung pada kemampuan pemerintah pusat dan daerah.
Dasar manusia, si Hasim tidak puas sampai di situ. Pada suatu hari ada seseorang yang memberi tawaran kepada Hasim untuk bekerja sama dalam suatu bisnis. Hasim diminta menyetor modal beberapa puluh juta. Sebagai jaminan, orang itu meninggalkan sebuah mobil Toyota Avansa lengkap dengan kunci dan STNK, kecuali BPKB-nya. Beberapa minggu ia cukup berbangga dengan mengendarai mobil itu kemanapun pergi. Para tetangga pun berbisik-bisik, wah si Hasim sudah sukses bisnisnya.
PENGEMBANGAN KARIER GURU
Posted: 24 Mei 2011 in GURU, INSPIRASI, MANAJEMEN, PENDIDIKAN, PROFESITag:GURU, MANAJEMEN, PENDIDIKAN, PROFESI
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai butir-butir tujuan pendidikan tersebut perlu didahului oleh proses pendidikan yang memadai. Agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik, maka semua aspek yang dapat mempengaruhi belajar siswa hendaknya dapat berpengaruh positif bagi diri siswa, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Pengertian Pengelolaan
Dalam bahasa Inggris pengelolaan biasa disamakan dengan management yang berarti pula pengaturan atau pengurusan (Suharsimi Arikunto, 1988: 30). Menurut Griffin (1984: 6), pengertian management adalah sebagai berikut.
Management is a set of activities, including planning and decision making, organizing, leading and controlling, directed at an organization’s human, financial, physical and information resources with the aim of achieving organizational goals in an efficient and effective manner.
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Posted: 18 April 2011 in KONTEKSTUAL, PEMBELAJARAN, PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL, PENDIDIKANTag:KONTEKSTUAL
Pendekatan pembelajaran kontekstual, merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran fisika.
Menurut Suryanto (2002: 20 – 21) pembelajaran kontekstual adalah:
Pembelajaran yang menggunakan bermacam-macam masalah kontektual sebagai titik awal, sedemikian sehingga siswa belajar dengan menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memecahkan berbagai masalah, baik masalah nyata maupun masalah simulasi, baik masalah yang berkaitan dengan pelajaran lain di sekolah, situasi sekolah, maupun masalah di luar sekolah, termasuk masalah-masalah di tempat-tempat kerja yang relevan.
Johnson (2002: 25) mendefinisikan pendekatan CTL sebagai berikut:
the CTL system is an educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subjects with the context of their daily lives, that is, with the context of their personal social, and cultural circumstances.
Ini kisah nyata yang terjadi di desa sebelah. Aku mau bercerita tentang laki-laki yang bernama Man. Nama lengkapnya saya kurang tahu. Toh istriku yang mengenal sejak kecil juga tahunya bernama Man. Sebenarnya ia masih ‘peripean’ dengan istriku, karena kakaknya adalah suami dari kakak istriku. Sejak muda Man memang tergolong lelaki gigih. Tidak ada satu pekerjaanpun yang tidak pernah dilakoninya. Ya karena kegigihannya itu ia kini sudah memiliki toko di desa itu. Toko si Man merupakan toko terbesar di desa itu. Semoga saja Pemkab Magelang tidak memberikan ijin supermaket masuk desa, sehingga toko si Man masih yang terbesar dan terlengkap.
Kini orang-orang desa pada kebingungan karena beberapa hari ini toko si Man tidak buka. Selidik punya selidik ternyata Man sedang opname di sebuah rumah sakit. Lah kenapa si Man sampai masuk rumah sakit?
Boro-boro Dapat Tunjangan Profesi
Posted: 25 Maret 2011 in CERITA PENDIDIKAN, GURU, guru honorer, pahlawan, PENDIDIKANIni kisah tentang seorang guru yang bernama Pak Dul. Suatu hari Pak Dul bertemu seorang teman guru di tempat berlangsungnya kegiatan di Kantor Dinas Pendidikan. Hampir 3 tahun sudah mereka tidak pernah berjumpa. Dalam pertemuan itu mereka sempat ngobrol tentang kegiatan mereka di tempat kerja masing-masing. Pada ujung-ujungnya Si Teman menanyakan, apakah Pak Dul sudah lulus sertifikasi. Pak Dul menjawab, “Belum!”. Ternyata Si Teman tidak percaya ucapan Pak Dul yang sudah menjadi guru belasan tahun, karena tetangga Si Teman yang baru menjadi guru 3 tahun di sebuah sekolah milik departemen tertentu sudah terjaring seleksi sertifikasi. Sebagai guru SD, Si Teman merasa senang karena setelah lulus sertifikasi pada tahun 2007, selama ini sudah merasakan nikmatnya tunjangan profesi dengan akumulasi kira-kira 15 juta rupiah per semester. Hal ini bisa terjadi karena guru SD sebagai guru kelas sangatlah mudah memenuhi ketentuan 24 jam tatap muka, bahkan bisa lebih. Sedangkan Pak Dul adalah seorang guru yang mengajar di sekolah menengah atas di pinggiran, untuk memenuhi ketentuan 24 jam tatap muka sulitnya bukan main. Bisa dikatakan tidak mungkin, karena tiap tahun jumlah muridnya menurun akibat salah urus. Belum lagi dipermainkan oleh oknum ‘kalau bisa sulit, kenapa dipermudah?’. Celakanya, Pak Dul sendiri hanyalah seorang guru honorer. Boro-boro dapat tunjangan profesi, gajinya saja di bawah upah minimum yang layak. Di negeri ini banyak Pak Dul-Pak Dul lain, yang tidak cukup hanya disenandungkan Hymne Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Malam itu udara semakin dingin. Kang Karjo meladeni seorang pembeli yang baru datang.
”Wah gaji guru sekarang besar ya Bang? Kalau gitu anakku saya bujuk supaya masuk kuliah di keguruan” kata Bang Jali.
”Tak tahulah aku! Tanya saja pada Mas Karebet tuh!” jawab Bang Tigor sambil mengambil nasi kucing yang ada di depannya. Mendengar percakapan dua orang itu, Mas Karebet hanya terdiam, karena untuk kali ini ia benar-benar tidak tahu. Untung segera datang Pakde yang ikut nimbrung di komunitas angkringan itu.
Barangkali benar juga perkataan kolegaku tersebut. Memang lulus sertifikasi belum menjamin seorang guru untuk bertindak profesional. Apalagi tidak ada pengawasan yang melekat. Bahkan ada guru yang ditugaskan sebagai kepala sekolah dengan kewajiban mengajar hanya 6 jam pembelajaran per minggu, namun tidak melaksanakan kewajiban mengajar itu dengan baik. Dalam surat keputusan pembagian tugas yang dibuatnya sendiri memang tertulis tugas mengajar dan jumlah jamnya, tapi pelaksanaannya dilimpahkan secara lisan kepada guru lain. Guru yang menjadi korban ini tidak berani menolak. Takut kalau penilaian DP3-nya turun.
